Rejotangan – Memanfaat fenomena alam rashdul qiblat, yang terjadi pada hari Rabu tanggal 15 Juli 2026 pukul 16.27 KUA Rejotangan mengajak Takmir Masjid Besar Al Khoir untuk memeriksa ulang arah kiblat. Fenomena rashdul qiblat sendiri adalah kejadian luar biasa dimana pada hari dan waktu tertentu posisi matahari tepat berada di atas ka’bah.
Kegiatan dimulai pada pukul 15.30 untuk mempersiapkan dan memanfaatkan barang yang ada di area masjid untuk mengukur arah kiblat. Maka digunakanlah gantungan pakaian yang biasa digunakan untuk mengeringkan alas kaki masjid, se utas tali, dan pemberat berupa alat ukur tali milik tukang kayu, tali dan alat pemberat berupa botol yang diisi pasir, serta tongsis.
Tiga alat ini digunakan sekaligus untuk memastikan bahwa arah bayangan dibentuk dari benda yang benar-benar tegak lurus dengan bumi. Dua tali digunakan juga untuk membandingkan antara penggunaan tali besar dan tali kecil.
Dari kegiatan itu ditemukan beberapa kendala diantaranya adalah jika pemberat yang digunakan kurang, maka tali besar akan tertiup angin. Sementara penggunaan tali kecil menghasilkan garis yang tenang, tetapi hasil bayangannya juga kecil. Oleh karena itu, TIM juga menggunakan tiang tongsis untuk memastikan hasil yang diukur lebih valid. Dari tiga pengukuran itu peroleh hasil yang sama.

Hasil pengukuran kemudian digambar digambar di atas kertas, kemudian ditentukan arah utara dan selatan menggunakan kompas. Hasil gambar dibawa ke dalam masjid, untuk diaplikasikan di lantai masjid. Hasilnya ada perbedaan namun hanya sedikit.
Hadir dalam kegiatan itu antara lain Kepala KUA Rejotangan Rochmad Ali, para Penyuluh Agama Islam yaitu Mohamad Ansori, Rofik Bukhori, dan Zaenal Fanani serta pengurus Takmir antara lain Suhendro dan Husen Slamet (ans)
%20(2).png)











