Tulungagung – Kamis, 12 Februari 2026 bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung dilaksanakan acara “Doa Bersama dan Megengan” dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H.
Acara di hadiri oleh Kepala Kantor Kemenag Tulungagung H. Moh. Afif Fauzi, S.Ag, M.Pd.I dan para pejabat di lingkungan Kemenag Tulungagung, Ketua APRI, dan Ketua IPARI Kabupaten Tulungagung serta para Kepala KUA di 19 Kecamatan di Tulungagung serta para penyuluh agama Islam di Kabupaten Tulungagung.
Do’a Bersama dan Megengan tersebut diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan menyanyikan Mars Kementerian Agama, diteruskan dengan pembacaan ayat-ayat suci al Quran oleh Ustadz Misbahul Anam, penyuluh Agama Islam Kemenag Tulungagung. Selanjutnya disampaikan sambutan dari Plt. Kasi Bimas Islam Kemenag Tulungagagung, Supriono, S.Sos, MM.
Dalam sambutannya, pria humoris itu menjelaskan makna yang terkandung dalam megengan. “Megengan itu artinya “ngempet”, artinya mendekati Ramadhan kita harus bisa melatih menahan diri dari berbagai macam perbuatan yang kurang baik. Misalnya harus bisa menahan marah, menahan diri untuk berbuat maksiat, dan seterusnya”, paparnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, orang Jawa lebih suka mempermudah sebutan bulan-bulan Islam dengan menyebut bulan Sya’ban dengan sebutan Ruwah, yang maknanya pada bulan ini orang Jawa banyak berdo’a untuk arwah para leluhur, keluarga, dan sanak saudara muslim yang telah berpulang ke rahmatullah.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil yang dipimpin oleh KH M. Yasin Bisri, penyuluh Agama Islam yang bertugas di KUA Kecamatan Tulungagung.
Acara inti adalah tausiyah dan pembinaan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Tulungagung, H. Moh. Afif Fauzi, S.Ag., M.Pd.I. Dalam tausiyahnya kali ini beliau menegaskan pentingnya memahami peran penting dan posisi strategis KUA dan Penyuluh Agama Islam. Beliau juga menceritakan inspirasi cerita hikmah seorang sahabat nabi yang bernama Sya’ban.
“Salah satu sahabat Nabi Muhammad ada yang bernama Sya’ban. Sya’ban ini orang yang sedikit aneh dan berbeda dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain. Ketika Nabi membangun masjid, ia tidak membeli dan membuat rumah di dekat masjid, tetapi justru memilih tempat yang jauh dari masjid. Sementera, sahabat yang lain, berebut inging memiliki rumah yang paling dekat dengan masjid nabi,” jelasnya.
Sahabat Sya’ban ternyata mendasarkan pilihannya tesebut berdasarkan penjelasan dari Nabi bahwa setiap langkah menuju masjid akan menghapus dosa dan meningkatkan derajat orang mukmin. Oleh karena itu, ia memilih rumah yang jauh agar dapat lebih banyak langkah yang dibuat, agar dosanya-dosanya diampuni oleh Allah Swt dan dinaikkan derajatnya.
Meskipun rumahnya jauh dari masjid, sahabat Sya’ban ini tidak pernah ketinggalan shalat jamaah. Bahkan ia seringkali datang sebelum adzan, menunggu adan dengan beri’tikaf di pojok masjid. Hingga suatu ketika Sya’ban tidak datang ke masjid karena ternyata ia telah meninggal dunia.
Ketika Nabi Muhammad beserta para sahabatnya mengunjungi rumah Sya’ban, istrinya menceritakan bahwa sebelum meninggal dunia, ia menanyakatan tiga hal yang mana sang istri tidak tahu apa maksudnya. Lalu ditanyakanlah pertanyaan itu kepada Nabi.
Tiga pertanyaan itu adalah: (1) mengapa tidak lebih jauh?, (2) mengapa tidak yang baru?, dan (3) mengapa tidak semuanya?
Pertanyaan itu kemudian dijelaskan oleh Nabi bahwa Sya’ban dalam sakaratul mautnya melihat pahala dari apa yang telah dilakukannya. Mengapa tidak lebih jauh? Sya’ban melihat pahala yang luar biasa dari setiap langkah yang ia lakukan menuju masjid untuk sholat berjamaah. Seandainya rumahnya lebih jauh lagi, tentu pahala yang didapatkannya akan lebih banyak dari yang telah ia lihat pada sakaratul mautnya itu.
Mengapa tidak yang baru? Itu karena Sya’ban dalam perjalanannya menuju masjid bertemu dengan orang yang kedinginan. Sementara ia mengenakan pakaian dobel, yang luar yang sudah lama, dan yang dalam pakaian yang baru. Ia melihat betapa besarnya pahala menolong orang dengan pakaian bekas yang sudah lama itu, dan menyesal mengapa bukan yang baru yang ia berikan. Seandainya ia berikan yang baru tentu ia akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.
Mengapa tidak semuanya? Itu karena Sya’ban pernah memberikan sebagian rotinya kepada orang yang membutuhkan. Dengan sebagian roti saja ia sudah mendapatkan pahala yang luar biasa. Seandainya ia berikan semua rotinya, tentu ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar.
Dari kisah hikmah di atas kita dapat memahami bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan akan mendatangkan kebaikan dan pahala yang luar biasa. Apalagi jika kita dapat memberikan yang terbaik untuk orang lain, yang terbaik untuk masyarakat, tentu akan mendatangkan barokah yang lebih besar. (ans)

.png)











