Example 728x250
SAKINAH

Sarasehan Penyuluh Rumpun Sakinah, Pentingnya Spirit Iman dan Takwa Sebagai Pondasi Utama

6
×

Sarasehan Penyuluh Rumpun Sakinah, Pentingnya Spirit Iman dan Takwa Sebagai Pondasi Utama

Sebarkan artikel ini

Tulungagung (IPARI) – Dalam rangka meningkatkan kompetensi Penyuluh Agama di rumpun Keluarga Sakinah, pada hari Rabu, 06 Mei 2026 penyuluh Agama Islam rumpun sakinah kembali melaksanakan rutinitas sarasehan terprogram di Ponpes Putri Panggung Tulungagung.

Hadir sebagai narasumber Sarasehan kali ini kepala KUA Tulungagung Muhroji. Dalam paparan materinya beliau menyampaikan pentingnya seorang penyuluh mempunyai spirit Taqwa, iman dan pengabdian sebagai pondasi utama kepenyuluhan .

Selain itu, penguasaan materi dalam kepenyuluhan bagi setiap penyuluh harus benar-benar ditingkatkan. Materi-materi yang dibawakan selama melakukan penyuluhan harus berlandaskan dasar hukum yang jelas dan valid.

Lebih lanjut beliau juga mewanti-wanti kepada para penyuluh saat dan melakukan penyuluhan setidaknya harus memenuhi prinsip-prinsip penyuluhan dan mempunyai unsur penting dalam diri penyuluh yaitu pribadi yang Alim, Abid dan Uswah.

Ketiga konsep tadi harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri penyuluh. Karena selain melakukan penyampaian materi keagamaan dan punya disiplin ilmu keagamaan yang kuat, penyuluh juga harus bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat yang disuluhnya.

Berbicara tentang suri tauladan, penyuluh rumpun sakinah dituntut untuk bisa menjadi contoh dan model terwujudnya keluarga sakinah. Sehingga keberadaannya mampu memberi pengaruh kuat dan bisa menjadi panutan bagi masyarakat umum khususnya majelis taklim binaannya.

Sebagai pertimbangan, saat ini kita disuguhkan fenomena nyata bahwa 30 persen orang menikah itu berakhir di meja hijau melalui perceraian. Keluarga yang diidamkan setiap insan ketika menikah harus menghadapi kenyataan pahit karena munculnya berbagai masalah.

Di akhir materinya, bapak H. Mukhroji menyampaikan satu fakta menarik bahwa penyuluh saat ini menerima satu image dan kesan miring dari masyarakat. Terutama mengenai kinerja penyuluh yang dianggap dibawah standar sebagai seorang ASN. Penyuluh terkesan leha-leha dan tidak terlalu banyak beban kerja yang mengakibatkan tersematnya suatu anggapan bahwa penyuluh itu simbol hidup enak, kerja santai dan lingkungan yang penuh kenyamanan.

Mengakhiri paparannya, Muhroji berpesan kepada penyuluh untuk bekerja secara optimal, binaan yang jumlahnya 5 kelompok itu harus dirawat dan dilestarikan jangan sampai penyuluh abai terhadap tanggungjawabnya. (AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat Datang Di Website Kami, Butuh Bantuan Konsultasi Keagamaan Silahkan Hubungi Kami !
//
Admin 1
//
Admin 2
Hubungi Kami!