Tulungagung, 11 Agustus 2025. Dalam upaya membentuk karakter dan meningkatkan kesadaran remaja terhadap tantangan masa depan (future challenges) Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tulungagung menyelenggarakan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan ini berlangsung di beberapa titik sekolah di Kecamatan Tulungagung. SMP Negeri 1 Tulungagung menjadi destinasi dan patner Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan BRUS menjadi ikhtiar bersama antara Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan dalam tindakan preventif dan edukatif perihal bahaya pernikahan dini, narkoba, bullying, dan tawuran pelajar serta maraknya geng motor.

Kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMP Negeri 1 Tulungagung melibatkan penyuluh agama Islam sebagai pemateri. Sedangkan objek sasarannya, yakni peserta didik kelas sembilan SMP Negeri 1 Tulungagung. Bapak dan Ibu guru SMP Negeri 1 Tulungagung mengarahkan kelas-kelas yang akan mendapat bimbingan ramaja usia sekolah (BRUS) dari Kementerian Agama KUA Kecamatan Tulungagung. Beberapa poin penting materi yang menjadi agenda Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), yakni;


Mengenal Diri Sendiri, Kunci Melejitkan Prestasi
Sesi pertama diisi dengan materi bertema Pentingnya Mengenal Diri Sendiri untuk Melejitkan Prestasi. Pemateri mengajak para peserta didik untuk mengenali potensi, minat, dan bakat yang mereka miliki sejak dini. Dengan mengenal diri, siswa diharapkan mampu menetapkan tujuan hidup yang jelas serta menjauh dari perilaku negatif yang dapat merugikan masa depan mereka. Setiap peserta didik itu unik dan memiliki potensi luar biasa. Tetapi, potensi itu hanya bisa berkembang jika kalian benar-benar mengenal diri sendiri dan fokus pada pengembangan diri, ujar salah satu penyuluh agama dalam sesi tersebut. Penyulun Agama Islam KUA Kec, Tulungagung menegaskan, bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Artinya, barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal arah hidupnya, dan siapa yang mengenal Tuhannya, maka ia tidak akan mudah tersesat. Masa-masa pubertas peserta didik perlu mendapat pendapingan yang lebin intensif agar tidak salah pergaulan dan tahu arah tujuan hidupnya. Maka peran penyuluh agama Islam dan Pendidik pada masa ini sangat berpengaruh. Melalui kegiatan BRUS diharapkan peserta didik dapat mengenal potensi dirinya dan dapat melejitkan prestasi.


Lebih jauh lagi untuk mengenal diri sendiri ilmuan klasik keagamaan memaparkan, yakni pertama, muhasabah diri atau instropeksi diri. Langkah dalam melakukan instropeksi diri adalah menata niat, melakukan aktivitas (‘amal) yang relevan dengan niat, dan menghindari diri dari perbuatan menyimpang (dosa). Kaidah ini menjadi circle mengenal diri dari perspektif keagamaan. Kalimat sederhananya, yakni hisablah dirimu sebelum dihisab. Kedua, Tazkiyatun Nafs (pembersihan jiwa). Langkah ini setiap individu diajak untuk menghilangan sifat-sifat buruk, seperti riya’, dengki, dan sombong. Hilangnya sifat tersebut diisi dengan sifat positif, yakni ikhlas, sabar, dan syukur. Melalui sifat positif tersebut jati diri, kualitas diri, dan potensi semakin muncul. Maka, kesuksesan dalam prestasi akan mudah diraih. Pada kaidah ini Imam Al-Ghazali memberikan konsep, bahwa jiwa itu bagaikan cermin. Bila tidak dibersihkan, ia tidak akan memantulkan cahaya kebenaran. Maka, tazkiyatun nafas dapat ditempuh dengan memberishkan jiwa dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Ketiga, mujahadan atau melawan hawa nafsu. Dalam kaidah agama, mujadaha dilakukan dengan melakukan ibadah, puasa, pengendalian diri, dan Latihan spiritual. Tetapi subtansi dari mujahadah, yakni berjuang melawan dorongan negatif dalam diri sendiri. Jika peserta didik mampu mengekang untuk tidak melakukan hal-hal negatif, maka potensi meraih prestasi cemerlang semakin tinggi. Relavan dengan pernyataan beberapa ilmuan, yakni tidak ada manusia jahil atau bodoh, tetapi hanya malasa. Keempat, tafakkur dan tadabbur atau merenung memikirkan alam semesta yang mengandung banyak hikmah dan ilmu pengetahuan. Pada tahapan ini Ibnu Sina dan Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya akal dalam memahami hakikat diri. Melalui pelatihan-pelatihan sebelumnya (muhasabah, tazkiyatun nafas, mujahadah) maka akal akan berfungsi secara maksimal. Kelima, ma’rifat al-nafs (pengenalan hakikat diri) jiwa yang bersih akan mudah mengenal diri sebenarnya. Dari sini akan timbul kesadaran, bahwa manusia merupakan makhluk lemah. Ia perlu Tuhan. Setiap aktivitasnya banyak mendapat uluran tangan Tuhan. Uluran tangan Tuhan tersebut dapat berbentuk bisikan kebaikan hikmah yang menuntunnya kearah kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. Ia menyadari pula, bahwa dalam dirinya terdapat ruh amanah Ilahi yang harus dijawa dan dikembangkan sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat. Jika sudah demikian, maka segala aktivitasnya akan mencerminkan manifestasi dari nilai-nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan; kasih sayang, berkata jujur, lemah lembut, dan selalu dalam kesibukan untuk menghadirkan kebajikan. Keenam, ma’rifatullah atau mengenal Allah. Ibnu Arabi memberikan keterangan, bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari wujud Allah. Lebih jauh, dunia ini tajalli (penampakan Allah) dalam berbagai bentuknya. Maka, mengenal ciptaan berarti mengenal Allah dalam sifat-sifat-Nya. Semakin dalam seseorang atau peserta didik untuk bersungguh dalam mengarungi samudera keilmuan makan akan mengenal diri dan mengenal Tuhannya. Untuk menggali potensi dirinya maka diperlukan untuk mengenal ciptaan-ciptaan Allah yang tersebar di alam semesta. Semua benda diciptakan memiliki manfaat. Maka individu yang menggali benda-benda di sekitarnya semakin banyak keilmuannya dan memberikan ruang eksistensi terhadap diri dan lingkungan. Pribadi yang demikian tentu memiliki banyak ilmu dan relevan dengan manfaatnya di masyarakat.


Waspadai Ancaman Pernikahan Dini, Narkoba, dan Pergaulan Bebas
Materi dilanjutkan dengan pembahasan tentang pencegahan pernikahan dini, bahaya narkoba, pergaulan bebas, serta tawuran pelajar yang semakin marak dan meresahkan. Para penyuluh agama mengingatkan peserta didik agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan teman sebaya yang menyesatkan. Pernikahan dini bukan solusi dari masalah, justru dapat mematikan masa depan. Begitu pula dengan narkoba, pergaulan bebas, dan tawuran, semuanya hanya akan membawa kerugian dan penyesalan, tegas pemateri. Melalui pendekatan yang komunikatif dan diselingi dengan kisah-kisah inspiratif, para peserta didik tampak aktif berdiskusi dan bertanya. Beberapa peserta didik bahkan mengaku baru kali ini mendapatkan wawasan sedalam itu tentang pentingnya menjaga diri dan fokus pada pendidikan.

Harapan untuk Generasi Emas
Di akhir kegiatan, pihak sekolah dan KUA Kecamatan Tulungagung berharap agar para peserta didik dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Bimbingan semacam ini diharapkan menjadi agenda rutin untuk mendampingi remaja dalam proses tumbuh kembang mereka secara sehat dan positif. Kegiatan BRUS ini ditutup dengan doa bersama dan sikap komitmen peserta didik untuk menjauhi perilaku menyimpang dan fokus meraih cita-cita.
%20(2).png)











