Example 728x250
SAKINAH

Mengenal Potensi Diri Melalui Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS)

244
×

Mengenal Potensi Diri Melalui Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS)

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, 14 September 2025 – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tulungagung menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMP Negeri 3 Tulungagung sebagai upaya pembinaan mental, emosional, dan sosial remaja agar siap menghadapi tantangan kehidupan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman remaja tentang pentingnya mengenal diri, mengoptimalkan potensi, serta memberikan pemahaman tentang bahaya pernikahan di bawah umur, yang kerap mengancam masa depan generasi muda.

Kegiatan yang berlangsung satu hari ini diikuti oleh lebih dari 400 peserta didik dari kelas IX (sembilan). Dengan menghadirkan narasumber dari Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama Islam, acara ini dikemas secara interaktif dan aplikatif. Narasumber dalam hal ini Penyuluh Agama Islam KH. Yasin Bisri menyampaikan pentingnya menjaga diri dari perbuatan maksiat atau merugikan. Bentuk kemaksiatan remaja usia sekolah, yakni melakukan pendekatan terhadap lawan jenis dengan segala atributnya. Agama memberikan Batasan-batasan dalam pergaulan dengan lawan jenis. Yasin Bisri, S.Sos.I. menegaskan, bahwa agama memberikan keterangan perihal bahaya hubungan melampaui batas, yakni; Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya [zina] itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk,” (QS. Al-Isra [17]:32). Ayat ini memberikan keterangan jelas, larangan melakukan perbuatan zina agar tidak terjerembab dalam perbuatan keji dan mendapat keburukan. Jika seseorang melakukan keburukan, maka masa depannya akan suram dan terhambat. Maka remaja yang kuat adalah mereka yang mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mengisi dengan perbuatan positif untuk bekal di masa depan. 

Mengenal Diri: Fondasi Pengembangan Remaja. 

Dalam sesi berikutnya, peserta didik diajak untuk memahami pentingnya mengenal jati diri sebagai landasan untuk membentuk karakter yang kuat. Narasumber Moh. Kudlori, M.H.I. menjelaskan bahwa proses ini sangat penting di masa remaja, karena merupakan fase pencarian identitas yang kritis. Dengan mengenal siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya, remaja akan lebih percaya diri dan mampu menentukan arah hidup yang tepat. Dalam kesempatan tersebut narasumber dari KUA Kecamatan Tulungagung mengutip pesan agamawan, bahwa man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, artinya barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Mengenal diri bermakna mengenali unsur dari manusi yang terdiri dari jasmani dan ruhani. Dimensi ruhani, yaitu akal, hati, dan nafs (keinginan). Sedangkan aspek jasmani berupa fisik yang harus diolah agar tidak rusak dan dapat menjadi jembatan kecermelangan akal budi (ruhani). Keduanya memiliki hubungan yang saling memengaruhi dan mutualisme jika dikendalikan dengan baik. Lebih jauh, diperlukan muhasabah atau instropeksi diri, tazkiyah an nafs (penyucian jiwa), dan mijahadah berusaha sungguh-sungguh untuk berusaha menggapai cita-cita dengan tidak menurut hawa nafsu semata. Jika demikian maka remaja akan mampu mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perilaku menyimpang, da memiliki arah hidup yang lebuh terarah secara spiritual dan moral. Al-hasil cita-cita akan tercapai dengan baik. 

Sesi salanjutnya peserta didik diajak berdiskusi dan mengisi lembar refleksi diri untuk membantu mereka mengenali minat, bakat, dan nilai-nilai hidup yang dianut. Pada kesempatan ini Edi Suryono, S.Ag. mengajak peserta didik untuk diskusi perihal cita-cita dan harapan peserta didik. masing-masing peserta didik menulis dan memaparkan cita-citanya. Kegiatan semakin interaktif melalui sisipan game yang disampaikan oleh pemateri dari KUA kecamatan Tulungagung. 

Mengoptimalkan Potensi Diri sebagai Investasi Masa Depan.

Sesi selanjutnya berfokus pada bagaimana potensi diri dapat dikembangkan secara maksimal melalui pendidikan, disiplin, dan pergaulan yang sehat. Para siswa diberi motivasi untuk menetapkan tujuan hidup, serta membuat perencanaan masa depan yang realistis. Setiap anak punya potensi besar. Tugas kita adalah memfasilitasi dan membimbing agar potensi tersebut berkembang menjadi kekuatan untuk meraih cita-cita. Kata Fathin Marua, S.Pd. dilanjut Nurul Latifah, S.H. dan Akhmadi, S.Pd. selaku penyuluh Agama Islam KUA Kec, Tulungagung. Melalui pengenalan potensi diri yang terus diasah dan dikembangkan, peserta didik dapat menyusun langkah konkret menuju impian mereka, seperti menjadi guru, dokter, atau wirausaha.

Pencegahan dan Bahaya Pernikahan di Bawah Umur.

Isu utama yang diangkat dalam BRUS kali ini adalah pencegahan pernikahan dini, yang masih menjadi masalah serius di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Tulungagung. Pernikahan usia anak berdampak luas, baik secara psikologis, sosial, maupun kesehatan. Pernikahan anak adalah bentuk pelanggaran hak anak. Remaja yang menikah dini cenderung putus sekolah, mengalami tekanan mental, hingga kesulitan dalam membina rumah tangga, jelas Tri Prasetiyo Utomo, S.Pd.I. Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Tulungagung.

Dalam pemaparannya, disampaikan pula bahwa Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 telah menaikkan batas usia minimum pernikahan menjadi 19 tahun bagi perempuan dan laki-laki. Materi ini penting untuk disosialisasikan sejak dini agar remaja tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial atau ekonomi yang mendorong mereka menikah di usia yang belum matang. Lebih sempurnanya menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia pernikahan bagi perempuan, yakni 21 tahun, sementara laki-laki 25 tahun. Pada usia tersebut potensi untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah lebih besar, ujar Tri Prasetiyo. 

Jembatan Menuju Cita-Cita.

Kegiatan BRUS ditutup dengan sesi motivasi bertajuk “Cita-Citaku, Harapanku,” yang mengajak siswa menuliskan visi hidup mereka dan langkah-langkah untuk mencapainya. Peserta diminta memvisualisasikan impian mereka dalam bentuk “Pohon Harapan” yang ditempel di kelas sebagai pengingat dan penyemangat.

Bapak Akhmadi, S.Pd.I. penyuluh agama Islam Kecamatan Tulungagung, menyampaikan, bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap cara berpikir peserta didik tentang masa depan. Masa depan terbuka luas alias cerah bagi mereka yang menyalakan obor atau suluh untuk jembatan harapan. Obor tersebut harus terus dinyalakan agar dapat menerangi ruang-suang gelap nafsu yang setiap saat dapat menjerumuskan pada perbuatan merugikan. Maka, penting untuk memvisualisasikan impian peserta didik dalam bentuk pohon harapan, agar terys diingat dan menjadi motivasi peserta didik. 

Penutup

Kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) oleh KUA Kecamatan Tulungagung di SMP Negeri 3 Tulungagung menjadi langkah nyata dalam memberikan edukasi yang komprehensif kepada generasi muda. Dengan mengenali diri sendiri, mengembangkan potensi, dan menjauhi praktik pernikahan usia dini, remaja diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berdaya saing, dan siap menyongsong masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat Datang Di Website Kami, Butuh Bantuan Konsultasi Keagamaan Silahkan Hubungi Kami !
//
Admin 1
//
Admin 2
Hubungi Kami!