الْحَمْدُ للّهِ. الْحَمْدُ للّهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا.، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَكَانَ قَدِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَحْسَنُ الْخَلْقِ خُلُقًا. اللّهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ. وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْن. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن. وَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِي اْلقُرْآنِ الْكَرِيْم: يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ.
Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua. Sholawat dan Salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga dan seluruh pengikutnya. Amin.
Selanjutnya, saya selaku Khotib berwasiat pada diri sendiri dan seluruh jama’ah, Mari kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya iman dan taqwa, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Hanya dengan modal iman dan taqwa, kita semua bisa selamat di dunia maupun di akhirat.
Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT
Ketahanan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas suatu bangsa. Keluarga sebagai sistem terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan pertama dan utama yang membentuk individu, baik dalam hal nilai, norma, maupun perilaku. Pengaruh ini kemudian akan terbawa dalam interaksi sosial yang lebih luas, membentuk lingkungan sosial dan bahkan mempengaruhi sistem yang lebih besar seperti masyarakat.
Terkait dengan ketahanan keluarga ini, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا ﴾ ( التحريم/66: 6) ﴿
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (At-Tahrim/66:6)
Ayat tersebut merupakan himbauan untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari “api neraka.” Istilah “api neraka” di sini tidak hanya merujuk pada siksa di akhirat, tetapi juga mencakup segala penderitaan, kesengsaraan, dan masalah yang bisa dialami seseorang dan keluarganya di dunia ini. Dengan menjaga diri dan keluarga, seseorang diharapkan mampu mencegah masuknya kesulitan dan kesengsaraan, sehingga bisa hidup dalam keamanan dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT
Dalam upaya membangun ketahanan dalam keluarga, setidaknya terdapat tiga pondasi utama, yaitu:
Pertama: Mu’adalah
Mu’adalah adalah prinsip keadilan yang diterapkan dalam keluarga. Keadilan bukan sekadar kesetaraan, melainkan penempatan hak dan kewajiban sesuai dengan porsi masing-masing. Dalam konteks keluarga, mu’adalah berarti seluruh anggota keluarga saling menghormati, memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, serta bekerja sama untuk kebaikan bersama.
Rasulullah SAW bersabda :
أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا.
Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian juga memiliki hak atas kalian.”
Rumah tangga seorang muslim dipastikan akan berjalan secara harmonis dan diliputi suasana sakinah mawaddah wa rahmah manakala masing-masing anggota keluarga mampu berbuat adil, dengan cara mereka saling memberikan hak dengan semestinya, sesuai hukum agama dan kesepakatan bersama.
Kedua: Mubadalah
Mubadalah merupakan konsep ketersalingan yang menekankan kerja sama dan kesetaraan antara seluruh anggota keluarga dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Setiap anggota keluarga, termasuk suami, istri, dan anak-anak, berkontribusi secara adil dan seimbang terhadap fungsi dan pekerjaan rumah tangga. Tidak ada pihak yang terlalu dominan atau otoriter, melainkan setiap peran dihargai dan dilaksanakan dengan rasa saling pengertian, kerja sama, dan kasih sayang sehingga akan tercipta keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Allah SWT berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ ﴾ ( البقرة/2: 187)﴿
Artinya: Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (al-Baqarah/2:187)
Maknanya adalah: bahwa seluruh anggota keluarga memiliki hubungan timbal balik yang erat, di mana semuanya haruslah saling melengkapi, saling memberikan ketenangan, ketenteraman, dan kenyamanan di dalam keluarga. Sebagaimana sahabat Ibnu Abbas menafsirkan makna surat al-Baqarah ayat 187 di atas dengan penafsiran:
هُنَّ سَكَن لَكُمْ، وَأَنْتُمْ سَكَنٌ لَهُنَّ
Artinya: “Mereka (para istri) memberikan ketenangan kepada kalian, dan kalian pun memberikan ketenangan kepada mereka.”
Dalam Pengambilan keputusan, misalnya. Meskipun suami berperan sebagai kepala keluarga, pengambilan keputusan hendaknya tidak dilakukan secara otoriter, melainkan dengan musyawarah dan melibatkan seluruh anggota keluarga. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa saling menghargai, rasa saling memiliki tanggung jawab, dan rasa kebersamaan dalam keluarga.
Ketiga: Muwazanah
Muwazanah berarti keseimbangan. Keseimbangan yang harus dijaga oleh setiap anggota keluarga dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini mencakup keseimbangan antara hak dan kewajiban, keseimbangan antara peran sebagai individu dan peran sebagai bagian dari keluarga, serta antara tanggung jawab di rumah dan tangggung jawab dalam masyarakat.
Allah SWT berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ࣖ ﴾ ( البقرة/2: 228)﴿
Artinya: Mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan atas mereka. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah/2:228)
Dalam hal pengasuhan anak misalnya, orang tua harus menyeimbangkan waktu dan perhatian untuk anak-anaknya. Orang tua yang sibuk bekerja tetap meluangkan waktu untuk berdiskusi dan mendengarkan curhat anak-anaknya, sehingga menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai orang tua.
Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT
Terakhir, marilah kita renungkan kalam hikmah dari Nabi Muhammad SAW:
أكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ
Artinya: “Paling sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang paling baik budi pekertinya dan yang paling lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR. Imam at-Tirmidi dan an-Nasa’i)
بارَكَ اللّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الحمد للّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُم، وَلَذِكرُ اللّهِ اكبر
%20(2).png)



